Mbah Warso Wisdom in Whimsy
Budi (Sarjana Baru): "Mbah, saya baru lulus S1 dengan predikat cumlaude. Tapi saya berbeda dengan teman-teman yang sombong dengan gelarnya. Saya justru ingin mengabdi untuk desa kita ini."
Mbah Kromo (Tetua Desa): "Wah, anak muda sekarang memang hebat-hebat. Dulu saya hanya tamatan SR, tapi alhamdulillah bisa menghidupi keluarga."
Mbah Warso: "Hahaha... Gelar cumlaude tapi masih minta lauk sama mbok-mbok penjual sayur! Nak, ijinkan Mbah bertanya: Kamu mau mengabdi dengan gelarmu atau dengan tanganmu?" (sambil memandang tajam)
Budi: "Maksud Mbah bagaimana?"
Mbah Warso: "Mengabdi itu kerja nyata, bukan cerita ijazah. Mbah Kromo ini tamatan SR tapi sudah membiayai 5 anaknya sekolah, itu baru mengabdi!"
Mbah Kromo: "Sudah, sudah... Jangan terlalu keras pada anak muda, Warso. Mereka masih perlu bimbingan."
Mbah Warso: "Justru karena masih muda harus diberi pelajaran yang jelas! Pendidikan tinggi itu seharusnya membuat orang semakin merunduk seperti padi, bukan mengembang seperti jagung!"
Mbah Warso mengamati fenomena GER (Gak Enak Rasanya) di kalangan terpelajar:
"Orang berpendidikan yang sejati itu seperti garam - kehadirannya terasa manfaatnya, bukan kebanggaannya yang ditonjolkan." — Mbah Warso pada suatu pagi di warung kopi
Menurut diskusi Mbah Warso dengan Mbah Kromo:
Mbah Kromo: "Warso, menurutmu kenapa sekarang banyak orang pintar tapi kurang bijak?"
Mbah Warso: "Ada tiga jenis orang berpendidikan, Kromo: Pertama, seperti sendok - bergelar banyak tapi hanya bisa mengaduk-aduk masalah. Kedua, seperti pisau - tajam otaknya tapi sering menyakiti. Ketiga, seperti kompor - diam-diam memberi energi untuk perubahan."
Budi: "Kalau saya ingin menjadi yang ketiga, Mbah."
Mbah Warso: "Kalau benar begitu, lepas dulu jas almamatermu, turun ke sawah bantu petani, baru kita bicara!"
Mbah Kromo menambahkan dari pengalaman 70 tahun hidupnya:
Mbah Warso memberi peringatan keras:
Kampus hanya menguji ingatan, tapi masyarakat akan menguji integritas. Banyak yang lulus ujian skripsi dengan nilai A, tapi gagal dalam ujian kejujuran ketika mengurus proyek desa.
Budi: "Tapi Mbah, bukankah gelar ini bukti bahwa saya punya kompetensi?"
Mbah Kromo: "Anakku, dulu ada insinyur dari kota mau membangun jembatan di sini. Ternyata dia tidak pernah bertanya pada nelayan tentang arus sungai. Hasilnya? Jembatan hanyut musim hujan pertama."
Mbah Warso: "Nah, itu dia! Gelar itu seperti pisau - bisa untuk memasak atau membunuh, tergantung yang memegang. Kompetensi sejati itu diukur dari kemampuan mendengar yang tidak diajarkan di kampus!"
Penutup dari Mbah Warso yang bikin NYES (Nyesek Tapi Ngena):
"Pendidikan tinggi itu seharusnya seperti pohon durian - semakin tinggi semakin banyak buahnya untuk dibagi, bukan seperti pohon pinus yang tinggi menjulang tapi hanya bisa dipandang."
✍️ Ditulis di serambi masjid desa selepas melihat debat panas antara sarjana fresh graduate dengan tukang becak yang lebih mengerti realita kehidupan.
🔊 Peringatan GER & NYES: Jika setelah membaca ini Anda merasa perlu memeriksa kembali sikap Anda, berarti artikel ini bekerja dengan baik.
Komentar
Posting Komentar
Komen Sing Apik apik Cah.