Mobil Mewah Pejabat Dan Gerobak Warga : Negara Apa Karnaval ?

Pejabat Pamer Mobil Mewah, Warga Dorong Gerobak, Ini Negara Apa Karnaval

Pejabat Pamer Mobil Mewah, Warga Dorong Gerobak, Ini Negara Apa Karnaval

Di warung kopi Mbah Darmi, suasana sore itu mendung tapi panas. Bukan karena cuaca, tapi karena obrolan tiga sesepuh kampung yang sedang jengah melihat kelakuan pejabat dan publik figur yang pamer harta di media sosial. Jalan kampung masih berlubang, tapi mobil mewah pejabat makin kinclong. Warga dorong gerobak, pejabat pamer Rubicon. Ini negara apa karnaval?

Dialog Panas di Warung Kopi

Bude Sri membuka obrolan sambil ngaduk kopi:

"Aku lihat di TV, pejabat pamer mobil mewah, anaknya joget di TikTok sambil nunjukin jam tangan miliaran. Lha kita di sini, jalan aja harus loncat-loncat kayak main engklek."

Mbah Darmi nyeletuk sambil goreng tempe:

"Bansos katanya buat warga miskin, tapi yang nerima malah keluarga aparat. Aku daftar tiga kali, yang dapet malah keponakan pak RW yang punya toko sembako."

Mbah Darmo tertawa pahit:

"Aku dorong gerobak jualan tahu bulat, pejabat lewat naik Alphard sambil nyetir pakai satu jari. Aku bingung, ini negara atau parade kemewahan?"

Mbah Warso Datang: Filsuf Ndeso Ikut Nimbrung

Di tengah obrolan panas itu, datanglah Mbah Warso, mengenakan sarung dan sandal jepit, membawa rokok lintingan dan logika kampung yang tajam.

"Wah, warung ini panasnya ngalahin kompor gas. Ada apa toh?" tanya Mbah Warso sambil duduk.

Bude Sri: "Pejabat pamer harta, artis pamer liburan, warga pamer kesabaran."

Mbah Warso: "Nek wong pamer, tapi ora ngerti rasa, iku jenenge 'kemewahan tanpa welas asih'. Falsafah Jawa bilang, 'Sugih iku ora saka duweke, tapi saka rasa cukup lan empati.'

Mbah Darmi: "Lha wong desa iki, jalan rusak, lampu mati, tapi pejabat selfie di mobil mewah. Aku bingung, ini negara apa konten creator?"

Mbah Warso: "Negara itu bukan soal siapa yang punya mobil paling mahal, tapi siapa yang bisa bikin rakyat jalan tanpa nyeklek. Nek pemimpin mung pamer, rakyat mung sabar. Tapi sabar itu ada batasnya."

Falsafah Jawa vs Flexing Kota

Mbah Warso:

"Wong Jawa itu diajari 'ajining dhiri saka lathi, ajining raga saka busana'. Tapi sekarang, ajining pejabat saka followers lan caption. Lha wong rakyat ora butuh caption, butuh jalan rata."

Mbah Darmo:

"Aku pernah lihat artis pamer rumah 10 lantai, tapi nggak pernah nyumbang buat warga yang rumahnya bocor. Katanya dermawan, tapi cuma di feed Instagram."

Bude Sri:

"Kalau pejabat pamer mobil mewah, tapi nggak tahu jalan kampung rusak, itu bukan pemimpin, itu pelancong."

Mbah Warso:

"Pemimpin sejati itu bukan yang paling kaya, tapi yang paling bisa membuat rakyat merasa cukup. Nek rakyat dorong gerobak, pejabat naik Rubicon, itu bukan kemajuan, itu ketimpangan."

Penutup: Refleksi Warung Kopi

Obrolan sore itu ditutup dengan tawa getir dan kopi yang mulai dingin. Tapi pesan Mbah Warso tetap hangat di hati.

Mbah Warso:

"Negara itu bukan panggung pamer, tapi ladang pengabdian. Nek pejabat pamer, rakyat dorong gerobak, ya jangan salahkan kalau warung kopi jadi tempat curhat nasional."

Bude Sri: "Semoga pejabat baca blog ini, biar tahu rasanya jadi warga kampung."

Mbah Darmi: "Kalau nggak baca, kita kirim link-nya lewat gerobak!"

Mbah Darmo: "Atau kita bikin karnaval kampung, judulnya: Parade Kesabaran Rakyat."


Artikel ini ditulis untuk blog Guyon Mbah Warso.

FAQ

Kenapa pejabat pamer bisa bikin warga kesal?
Karena ketimpangan sosial makin terasa saat kebutuhan dasar warga belum terpenuhi.

Apa solusi menurut Mbah Warso?
Falsafah Jawa: pemimpin sejati itu bukan yang kaya, tapi yang bisa membuat rakyat merasa cukup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngumpul tapi Sibuk Hp Masing Masing ! Piye Tho Iki ?

Otaknya Lelah, Liburan Sebulan Sekali: Fenomena Mama-Mama SOSMED