Mbah Warso Wisdom in Whimsy
Di warung kopi Mbah Darmi, sore itu mendung habis hujan. Aroma kopi hitam dan gorengan tempe masih ngebul. Empat sesepuh kampung duduk melingkar di kursi bambu, siap memulai ritual ngopi sore yang biasanya penuh tawa dan cerita. Tapi hari itu, suasana berubah jadi forum curhat nasional.
Mbah Warso menyeduh kopinya pelan, lalu menghela napas panjang.
"Lha iki ngumpul opo pamer casing HP? Wong kabeh nunduk, ngelus layar, ora ono sing ngomong."
Bude Sri langsung nyeletuk sambil ngunyah pisang goreng.
"Kemarin cucuku diajak ngobrol malah jawabnya pake emoji! Aku ngajak makan, dia malah ngetik '🍕'. Aku bingung, iki anak apa bot Telegram."
Mbah Darmi, si empunya warung, ikut nimbrung sambil goreng tempe.
"Aku lihat anak-anak itu duduk bareng, tapi nggak ada yang ngomong. Semua nunduk, kayak lagi ujian nasional."
Mbah Darmo tertawa sambil nyeruput kopi.
"Zaman aku dulu, ngumpul itu rebutan gorengan. Sekarang rebutan sinyal WiFi. Aku sekolahnya pas-pasan, tapi ngerti srawung. Lha iki, sekolah tinggi malah lupa adab."
Bude Sri:
"Aku pernah lihat anak muda ngumpul di rumah neneknya, tapi semua pakai earphone. Neneknya ngomong, mereka cuma angguk-angguk kayak boneka solar."
Mbah Darmi:
"Ada yang datang ke warung, duduk lima menit, terus live streaming. Aku bingung, ini warung atau studio konten?"
Mbah Darmo:
"Aku ajak ngobrol soal tanah warisan, dia jawab 'skip'. Aku kira itu istilah hukum, ternyata cuma males dengerin."
Mbah Warso:
"Aku lihat anak muda ngopi bareng, tapi sibuk foto minuman buat feed. Ngopi kok buat konten, bukan buat ngobrol."
Bude Sri:
"Cucuku kalau ditegur malah jawab 'yaelah'. Dulu kalau ditegur, kita malah minta maaf sambil nunduk."
Mbah Darmi:
"Ada anak muda yang ngomong kasar di depan orang tua. Katanya sih 'biar ekspresif'. Aku bilang, ekspresif itu bukan berarti kurang ajar."
Mbah Darmo:
"Aku lihat anak muda joget di pinggir jalan buat konten. Orang lewat bingung, ini flashmob atau gangguan jiwa ringan."
Mbah Warso:
"Kalau adab cuma jadi filter Instagram, ya jangan heran kalau sopan santun ikut blur."
Mbah Warso berdiri, menatap langit sore yang mulai redup.
"Ngumpul tanpa srawung itu kayak sayur tanpa garam. Ada bentuknya, tapi hambar rasanya."
Bude Sri:
"Grup WA juga nggak aman, Mbah. Emak-emak bisa ribut cuma gara-gara stiker kucing nangis."
Mbah Darmi:
"Dulu kalau ngumpul, kita tukar cerita, tukar kabar, tukar gorengan. Sekarang tukar notifikasi."
Mbah Darmo:
"Tatapan mata diganti emoji. Pelukan diganti like. Srawung diganti scroll. Aku bingung, ini kemajuan atau kemunduran?"
Mbah Warso:
"Kalau ngumpul cuma buat buka HP, mending bikin grup WA aja. Lebih hemat gorengan."
Artikel ini ditulis untuk blog Guyon Mbah Warso.
Komentar
Posting Komentar
Komen Sing Apik apik Cah.