Mbah Warso Wisdom in Whimsy
Bude Wartiyem: "Lho, kok sekarang ibu-ibu pada pinter bahas politik ya? Kemarin lihat status Mbak Yuli, panjang lebar soal kebijakan impor beras..."
Mbak Tursini: "Ah, itu mah cuma copas dari grup WhatsApp, Bud. Aslinya tiap hari nonton sinetron Anak Jalanan Jadi Presiden!"
Mbah Kromo: "Wong urusan beras aja taunya cuma di Indomaret, kok berani bahas impor ekspor..."
Mbah Warso: (nyruput kopi) "Ibu-ibu iki koyo tukang bakso bawa panci presto - dikit-dikit mau ngerti tekanan tinggi, taunya cuma bisa meletup-letup di sosmed!"
Mbah Warso mengamati pola unik Mak-Mak Jaman Now:
Bude Wartiyem: "Tapi kan mereka kan berhak berpendapat, Mbah?"
Mbah Warso: "Berpendapat iya, Bude. Tapi kalo asal njeplak tanpa mikir, itu namanya bukan pendapat, tapi kebisingan!"
Mbak Tursini: "Nah lho! Tapi kan seru tuh, Mbah. Ibu-ibu sekarang pada berani debat politik."
Mbah Warso: "Debat politik? Itu mah cuma saling lempar stiker 'Tetap Santuy' sambil nunggu sinetron mulai!"
Menurut Mbah Kromo, ada 3 pola:
"Politik di tangan ibu-ibu sosmed itu seperti pisau di tangan anak kecil - bisa bahaya, tapi yang disakiti malah diri sendiri." — Mbah Warso
Mbak Tursini yang melek digital memberi peringatan:
Bude Wartiyem: "Terus solusinya gimana, Mbah?"
Mbah Warso: "Gampang! Sebelum share berita politik, tanya dulu: 1) Ini beneran terjadi atau cuma katanya? 2) Kamu paham gak konteksnya? 3) Nanti ujung-ujungnya Kamu malu gak?"
Mbah Kromo: "Kalau masih ngeyel, ingetin: Nanti anak-anakmu yang lihat status embuhmu itu!"
📱 Ditulis sambil mengamati ibu-ibu kompleks yang dari tadi ribut di grup WhatsApp karena baper baca broadcast politik.
⚠️ Warning: Jika merasa tersinggung dengan artikel ini, mungkin Anda termasuk yang dimaksud. Tapi santai saja, besok juga lupa kalau sudah ada sinetron baru.
Komentar
Posting Komentar
Komen Sing Apik apik Cah.